Kamis, 16 Juli 2015
Kesungguhan dalam Berdoa
Salah satu tanda lemahnya makhluk adalah ia meminta. Berdoa adalah bagian meminta. Meminta sesuatu yang tidak dimiliki, karena kita tak punya kekuatan atasnya.
Sudah lama sepertinya saya ingin menulis ini dan belum sempat pula saya utarakan ke teman-teman tentang pandangan saya ini.
Suatu hari dimana hari bahagia saya ketika itu. Menjalani sebuah pernikahan yang hampir berbarengan dengan hari lahir saya. Tak pelak banjiran doa dan ucapan selamat masuk ke message mobile phone dan social media saya. Saya simak satu persatu, saya baca dengan teliti. subahanallah walhamdulillah, indah sekali ucapan-ucapan yang saya dapati.
Beberapa saat kemudian saya mengerutkan dahi. Ada beberapa doa yang sama. Persis, dari karakter huruf, isi sampai ejaan. Saat itu saya masih tetap berfikir positif. Mungkin orang yang copas ini telah membaca full doa itu, atau tak sempat menulis doa, atau bingung harus bagaimana mengucapkannya. Tapi Ini tidak hanya ada satu, tetapi lebih dari sepuluh (10). Artinya saya mendapat 10 doa yang sama persis baik isi dan tulisan.
Kebetulan saya bergabung dengan beberapa grup di whatsapp. Biasanya ketika ada yang ulang tahun, menikah, meninggal atau melahirkan akan banyak doa-doa yang dikirimkan dari anggota grup. Dan saya melihat pemandangan yang sama, duplikasi doa. Sesusah itukah menulis ucapan pribadi ?
Tak ada niat sedikitpun dari saya untuk mengabaikan ataupun tidak mengapresiasi doa yang seperti itu. Karena bagi saya, kepedulian saja sudah cukup.
Saya pun pernah melakukan hal demikian, mencopas doa dan akhirnya tak membekas. Hanya memperlihatkan formalitas. Dari situ saya belajar, sependek apapun pesan dan doa yang akan kita sampaikan, yang terpenting adalah kesungguhan dan ikhlas.
ada sebuah hadits :
Apabila salah seorang di antara kalian berdo’a maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya kepada Allah
Para salafusshalih telah mengajarkan bagaimana doa itu diutarakan. Ada yang mengucapkannya langsung dari mulut ada yang di dalam hati. Biasanya orang yang menulis ucapan doanya sendiri, insyaAllah dalam hati nya pun menyebut, walaupun doa yang tertuliskan pun sama. Tak ada yang salah dari doa yang sama, karena kita pun mendapatkan dari sumber yang sama. Semoga Allah memudahkan kita untuk berdoa dan doa kitapun sampai kepadaNya
Aamiin :) :)
Sabtu, 10 Januari 2015
Case 39
Case 39 is a horror film that has psychology point of view
such as anxiety disorder, psychotic, personality disorder, and
hallucination.In the beginning of film, it showed a little girl (Lily)
who has problem in academic because she cannot sleep well and get
pressure from her parents. One of anxiety disorder sign is having
reduction of grade. Emily (social worker) supposed that this case is
caused by her parents whom want to kill her by grassing her in the oven.
Finally, mom and dad of Lily is busted
by police, Mom became a madwoman and her father was an inmate. Lily’s
Mom got a psychotic and then she placed in mental asylum. She thought
that she is baked in the oven and her skin burned. In fact, It is just
hallucination.
In the middle of film, the character of Lily merged
in front of Emily, she appeared strange because there is demon in Lily’
self. It started when Diego murders his parents because of phone
influence of Lily. Psychiatric (Doug) assume that Lily has personality
disorder where he saw Lily can create a threat and stimulus for someone
who communicate with Lily, and then Doug is also die after receiving
phone by Lily. Another victim is a detective (Mike) who shoots himself
by gun.
All of victim of Lily always got hallucination before dying
such as her father, Doug, and Mike as well as Emily. Although, Emily
did not acquire a death but she obtained a terrible fright.
In my
conclusion, this film is not only contributing a horror scene, but it is
also providing knowledge regarding psychology. Demons can command
someone to act anything, so people have to reinforce themselves.
Langganan:
Postingan (Atom)

