Minggu, 31 Juli 2011

Ramadhan dan Virus Remaja

Semangat Ramadhan untuk pembaca yang budiman...
Apa kabar sahabat musafir?
Tulisan kali semoga bisa menjadi nasehat untuk teman-teman dan juga pribadiku tentunya...

Alhamdulillah, insyaallah beberapa jam lagi akan menjemput bulan yang mulia, dimana di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, seperti firman Allah dalam surat Al-Qadar :


Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Di tengah terpaan budaya dan teknologi yang mengiringi kehidupan kita, sudah jelas bisa jadi faktor yang bisa merubah pola hidup dan perilaku sehari-hari kita...
Mempengaruhi fikiran dan perasaan, yang tadinya koleris (keras), menjadi melankolis (mendayu-dayu)...
Apapun perubahan yang terjadi patutlah yang ke arah positif yang membuat hidup menjadi produktif. Namun jika sebaliknya harus cepat-cepat sadar diri, agar tidak terjerumus lebih jauh. Apalagi di bulan Ramadhan ini haruslah digunakan dengan kegiatan-kegiatan yang penuh manfaat. Karena terlalu disayangkan kesempatan ini dibuang...
Daripada kita membuang hal-hal yang bermanfaat untuk Ramadhan, lebih baik kita menjauhi bahkan membuang sifat-sifat yang seperti di bawah ini :
1. Alay (agak Lebay)

"4LH4MDUL1LL4H D1 H4R1 P3RT4M4 R4M4DH4N 1N1 T4H47UD 4KYUU KHU5YU' 84N63T, D4N T4R4W3H T4D1 M4L4M 83N4R-83N4R 45Y1K, 4P4L491 53T3L4H 1TU 4KYUU 84C4 4L-QUR'4N 54TU L3M84R, C3M4N64T PU4C4" ^_^
haha,,, jadi ketawa-ketawa nulisnya.... nah ini salah satunya. Poinnya bukan di tulisan 4l4y nya, tapi bagaimana tulisan itu diungkapkan. Setiap amalan memang bergantung pada niatnya, ketika hal-hal yang membuat hati menjadi bermakna dihadapan Allah, biasanya cuma diri dan Allah saja yang tau, ya sama lah seperti orang yang pacaran, dimana ia tidak akan memberitahu teman-temannya apa yang ia lakukan bersama sang pacar, karena saking rahasianya, dan memang tidak perlu karena memang bukan pada tempatnya. Permasalahan yang besar adalah dikhawatirkan ini bisa menjadi faktor yang menghilangkan pahala. Terlalu disayangkan amalan yang berbobot besar itu menjadi sia-sia dikarenakan ingin orang lain tau
"Amalan kecil bisa menjadi besar dikarenakan oleh niat, dan amalan besar bisa menjadi kecil dikarenakan pula sebuah niat."
Jadi alangkah baiknya jika amalan-amalan kita menjadi rahasia percintaan kita dengan Allah, sehingga Allah pun ridha mencintai kita. Insyaallah

2. Galau

Galau adalah buah atas ketidakpastian pendirian dan sikap, sehingga fikiran terbang mencari jenis kenyamanan seadanya, kelamaan bisa berkerak dan sulit dihilangkan, ada yang menyebutnya futur..
wah kacau nih kalau seperti ini, harusnya bisa baca qur'an berlembar-lembar, jadi malah update ribuan status perasaan... mending updatenya tentang ayat Qur'an atau hadist, tapi ya biasalah ga jauh dari C.I.N.T.A (sama yg bukan istri) :)
Ini memang virus yang lagi musim, ya kalau dibilang futur, kita memang tidak bisa menafikan hal itu, namun kita bisa melihat penyebabnya. Ada sebuah ayat yang begitu mendalam :
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yg lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yg fasik" 
(Alhasyr : 19)

MasyaAllah... begitu sombongkah diri ini sehingga melupakan Sang Khalik ? Sekejap pun tidak pantas kita melupakan-Nya, wajar seandainya rasa bingung terhadap diri sendiri melanda, ya bisa jadi disebabkan karena kita lupa dalam mengingat-Nya. Solusinya adalah kita harus kembali mengingat Allah. Memohon ampun ketika perasaan yang terombang ambing itu mendera, kemudian menjauhi ketidak manfaatan, agar Ramadhan ini benar-benar bermakna...

3. Labil

Nah, satu lagi nih virus yang patut di waspadai, jika terkena mau tidak mau harus segera di obati, agar Ramadhan ini tak ternodai...
Di hari pertama Ramadhan semangat, shalat wajibnya full jama'ah, tilawah 20 lembar sehari, duha, QL, taraweh ga perlu ditanya, dilahap itu semua. Namun beberapa hari setelah itu...? Ibadah mulai menurun, sudah malas ngejalanin ibadah itu semua, lebih fokus ke rasa laper yang ada di perut. Semuanya benar-benar nurun drastis. Memang sesuai sabda Rasulululah
"Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” 
(HR Ibn Hibban)
Masalahnya seandainya hal ini terjadi di bulan Ramadhan. Karena kita usahakan sekecil apapun kita tak boleh berbuat kesalahan di bulan ini. dan seandainya itu terjadi...? Mau tidak mau kita harus sadar bahwasanya amalan kita sudah menurun, dan itu adalah sebuah kesalahan besar di bulan ini. Amalan kita boleh saja turun, tapi tidak boleh di bawah rata-rata. Karena kalau sudah jauh di bawah, bahkan dibumbui oleh kemaksiatan itu namanya bukan futur lagi, tapi sudah "ngedableg". Jika sudah sadar akan penurunan itu, kita harus mengejar hal-hal yang kurang dan membayar amalan yang sudah kita tinggalkan. Kita harus membayarnya penuh, sehingga hasilnya bisa cumlaude. :)
Jangan sampai, targetan yang sudah kita buat menjadi sia-sia. Planing menjadi tak tercapai karena penurunan kualitas keimanan. Ucapkan istighfar, syahadat lalu berwudhulah, agar semangat itu bisa muncul lagi.
Sahabat Musafir yang dimuliakan Allah..
Alay, Galau dan Labil adalah salah satu cara syaitan merusak amal ibadah kita. Membuat Ramadhan seolah-olah begitu berat untuk dijalankan. Sehingga yang didapat hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillah... Semoga kita bisa manfaatkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.
Amiin Insyaallah

Sabtu, 30 Juli 2011

Ramadhan, Bulan Kampanye

Wah, kampanye apa nih...
Memang masih boleh ya penulis daftar jadi ketua HME ?
Atau daftar jadi Ketua BEM... haha
ga mungkinlah.... ga mungkin juga jadi calon Gubernur DKI, walaupun ada sebagian bakal calon yang udah gencar-gencarnya bagi-bagiin jadwal Imsakiyah Ramadhan, diselipin foto denganya senyumnya, seolah-olah berkata "Marhaban ya Ramadhan", padahal bisa jadi maksudnya "Jangan lupa pilih Saya ".. hee...
kita doakan semoga niatnya karena Allah... amiin...

Pembaca yang dirahmati Allah...
Yang selalu online juga insyaallah,,hee
Bulan Ramadhan bisa dibilang "Bulan Kampanye"
Kampanye itu kan maksudnya mempublikasikan yang tujuannya untuk memperkenalkan...
Nah, inilah poinnya...
Poinnya dimana kita bisa mengkampanyekan ajaran islam yang sesungguhnya..
Dimana nanti setiap umat dituntut kesabaran...
Setiap orang harus berkata jujur, menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dana aktifitas lainnya yang mencerminkan muslim yang budiman..
Di tengah gemuruh terorisme, kebodohan dan kemalasan yang semua itu tersudut dalam satu nama yaitu islam, kita (umat muslim) haruslah bisa menepis itu semua...
Melalu media diri dan dunia maya, kita bisa mengkampanyekan syiar islam...
Apalagi yang sering online... itu bisa menjadi sarana yang dapat memudahkan kampanye...

Coba kita hitung lagi waktu online kita selama sehari, kemudian dibandingkan dengan waktu ibadah, hasilnya adalah..?? ya cuma aku dan anda yang tahu...
Nah, fasilitas itu (online) salah satunya bisa nkita manfaatkan sebaik-baiknya saat Ramadhan..
Memberikan nasehat walaupun satu ayat..
Menuliskan hadits-hadits Rasulullah..
Menyampaikan kata-kata hikmah dan nasehat yang bisa bermanfaat...
Hal-hal tersebut termasuk mengkampanyekan islam di bulan Ramadhan...
Apakah hal itu bisa kita lakukan..?
Jawabannya sangat bisa..
Tergantung dari niat kita masing-masing...
Janganlah isinya hanya sekedar curhat saja, apalagi menuliskan kekesalan kepada sesorang sehingga hewan-hewan Ragunan dipelihara dalam mulut kita... (anehnya koq muat) :)

Sahabat sekalian... Di bulan Ramadhan ini, mari kita kampanyekan budaya dan kata-kata yang bermanfaat... yang islami... yang menambah keberkahan di bulan Ramadhan...
Karena setiap hati yang tersentuh oleh kata-kata kita, bisa jadi menambah amal pahala yang luar biasa...
Apalagi di bulan Ramadhan ini, dimana setiap pahala dilipatgandakan...
Insyaallah

Ramadhan, Ajang Balas Dendam

Alhamdulillah kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun ini.  Coba lihat sekeliling kita, ada orang-orang yang sudah dipanggil Allah, sehingga tidak bertemu bulan yang mulia ini. Jadi sangat disayangkan, apabila momentum ini tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, apalagi dengan kondisi yang sehat wal afiat, insyaallah Ramadhan ini bisa kita maksimalkan....
Entah kenapa aku berfikiran ramadhan ini sebagai ajang balas dendam...
Bukan balas dendam atas kekesalan terhadap manusia, namun membalas dendam terhadap syaitan yang mungkin di Ramadhan tahun lalu telah berhasil menang dengan membuat nilai-nilai ibadah yang tidak maksimal, bahkan mungkin menjadikan Ramadhan tahun lalu penuh dosa...
haha... contohnya ya siapa yang masih sering berbohong di bulan Ramdhan?
mencontek saat ujian?
hati masih kotor mikirin "say" (dibaca saytan) :)
Aku kesal sekali dengan Ramadhan tahun lalu...
Kalau di ingat-ingat pertemuanku dengannya dulu, benar-benar menyakitkan...
Bagaimana tidak, di saat kondisi yang sangat baik pada saat itu, aku tidak memanfaatkannya dengan baik pula..
Targetan-targetan yang aku buat dengan penuh semangat, aku tunaikan dengan rasa tidak bersemangat, sehingga hanya malu pada diri dan tulisan...
Memang pada saat itu masih minim ilmu, sekarang alahamdulillah bertambah sedikit..
Memang saat itu, kondisi kurang fit, sekarang insyaallah sehat...
Memang pada saat itu ruhiyah masih sempit, insyaallah sekarang kita tampil dengan kondisi terbaik...

Dan inilah saatnya...
Saat yang ditunggu-tunggu...
Aku anggap momentum ini sebagai final liga Champions...
Yang belum tentu aku bisa lolos lagi tahun depan...
Tak ada kata-kata lagi selain membuktikan dan bertekad untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan terbaik dalam pertarungan ini...
Mengalahkan nafsu syaitan dan memperbanyak barakah Allah SWT...
Memperkuat komitmen yang dibuat...
Menjalankan rencana yang dituliskan...
dan mencapai targetan yang direncanakan...

Jika Ramdhan ini kita bisa lebih baik dari Ramadhan tahun lalu, insyaallah kita menjadi orang yang beruntung...
Jika sama saja, maka kita termasuk orang yang merugi..
Jika lebih buruk dari Ramdhan tahun lalu, sebaiknya menangis banyak-banyak deh, mohon ampun kepada Allah agar dipertemukan lagi tahun depan, karena itu termasuk golongan orang yang celaka...
Insyaallah Gerbang Ramadhan sudah di depan mata, mari kita balas ketidakmaksimalan Ramdhan tahun lalu, dengan amalan full ibadah...
Amiin...
Insyaallah...

Senin, 11 Juli 2011

diri catatan menghibur


hee,,, dari judul ajah udah ga jelas,,,
ya karena itu memang salah satu cara untuk menghibur diri sih...hee.. oke kita mulai..

redup sudah penantian srigala yang lapar,,,
kini gerombolan itu kian menjauh,,,
hanya lilin bulu yang menjadi harapan untuk bisa dimakan...

hee... hanya sekedar menghibur diri...
dengan keyakinan masih penuh, namun seolah-olah mau runtuh...
ada apa ini...
banyak targetan (akademik) yang belum maksimal,,
namun banyak saja alasan untuk menghibur diri...

Jarang masuk kuliah alasan sibuk ngurus A, B, C..
PR ga ngerjain  alasannya ikut kepanitiaan...
UAS pas-pasan, ngomongnya karena sibuk organisasi..
PKL belum kelar unjung-unjungnya karena ngeremin kampus...
TA belum selesai kumulatif dari itu semua...
Sidang belakangan, alasannya nunggu temen yang belum (solider)..
Wisuda duduk paling belakang, alasannya ah didepan panas...
Dapet kerja yang ga sesuai, jawabnya ini udah rezekinya...
ckckckck

Sebenernya ga gitu-gitu amat,,,
cuma diambil rata-ratanya ajah...
hee...

Awalnya memang tak sengaja....
Kemudian menikmati...
Setelah itu tanggung jawab (ini yang berat)...

Konsep manajerial sebagus apapun tak akan berjalan seandainya tak dilandasi komitmen dan kinerja sebagai landasan yang fundamental...
Sekecil apapun konsep yang dijalankan, pasti akan menuai hasil, dan hasilnya pasti berbanding lurus dengan kinerja yang diberikan....
Disini (kampus), kita banyak belajar...
Belajar dalam hal akademik...
Belajar kepemimpinan...
Belajar wirausaha...
Belajar bersosialisasi...
Belajar manajemen waktu...
Belajar memanajemen konflik....
Dan belajar mencintai (dalam hal ini sahabat/teman, kalau ada yg lain silakan mendefinisikan secara pribadi :D)

Niat itu adanya di awal, pertengahan dan diakhir....
Jika diantara itu sudah luntur maka buyar yang terlewati...
Jika kembali meluruskan kembali, maka masih ada cita-cita kedepan...
Komitmen itu adanya diawal, petengahan dan akhir...
Jika diantara itu ada yang memudar, maka akan ada kekosongan kinerja, dan tak ada hasil...
Jika kembali dikuatkan, maka harus maksimal mengejar yang tertinggal agar bisa menyusul target selanjutnya...

Untaian kata hari ini, adalah ekspresi dari kekecewaan atas ketidakmaksimalan dalam hidup...
Bukan meratap kemudian diam,,
Tapi mengevaluasi kemudian bergerak...
Subhanakala ‘il malana illa ma’allam tana innaka antal ‘alim mul hakim 
Maha suci ENGKAU Ya Allah, kami tidak mempunyai pengetahuan selain daripada apa yang Engkau ajarkan, Sesungguhnya Engkau jualah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana)

"Tak kan mungkin sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa kehendakMu, maka bimbingah aku dan kuatkanlah azzamku untuk senantiasa selalu berada di dalam takdir baikku"

*takdir baik adalah pertemuan antara kehendak kita dan kehendak Allah

Minggu, 10 Juli 2011

Alunan Nada


Purnama nampak elok dalam payung malam...
Terlihat mata yang mencolok yang mengharap keteduhan dalam keheningan...
Hingar bingar alunan drum dan gitar memecah kumpulan bintang-bintang..
Tak luput hati yang begitu syahdu juga tertampar...


Dalam diam hatinya berbisik....
Manfaatkah yang mereka lakukan....
Melompat-melompat...
Menggeleng-geleng kepala...
Campur aduk wanita yang bukan saudara...

Itukah dzikir mereka...
Pantaskah hal itu dalam memuja Tuhannya...
Diiringi kicau gemuruh suara orang bertato yang tidak karuan..
Suasana yang gaduh itu terasa nikmat....nikmat sekali...
Merasakan syurga diatas rumah setan...

Hatinya diam bukan tak peduli...
Hati merasa malu dan sakit hati...
Membiarkan mereka dalam pelukan setan...
Menasehati malah dituduh menjadi setan...
Mengaji disuruh pelan-pelan agar tak mengganggu musik yang berdendang...
Apa yang salah?

Ya Rabb, jika aku peduli terhadap makhlukmu...
Apa mereka milikmu atau milikku?
Membalikan kondisi bumi yang semakin pilu...
Apakah ini bumimu atau bumiku...?
Susah payah mengganti nyanyian mereka dengan firmanMu..

Kami ingin bersama-sama dalam sujud kepadamu...
Dalam untaian firman-firmanMu...
Bukan disaat kuping ini nikmat akan alunan kegaduhan..
Agar tak ingin erat-erat dalam pelukan setan...

Sabtu, 09 Juli 2011

wahh,,, melting !!!!

Siapa yang tak kenal ka Bagas...
Pemuda tampan ini selalu ada saja fansnya...
Baik di sekolah atau dikampus, ia selalu mempunyai kesan yang baik dimata teman-temannya...
Dalam kesehariannya, ka Bagas bisa dibilang lurus-lurus saja...
Karena memang tak ada kejahilan yang sering ia lakukan, bahkan ia termasuk orang yang humoris...

Teringat ketika SMA, aku lihat ia berjalan menuju kelas, dari lantai dua ternyata ada yang meneriakinya
"Ka Bagas, Ka Bagas"
Dan ketika ia melewati suatu kelas, sering kali siulan berambat ditelinganya...
"Eh ada ka Bagas, suit..suiwwwwt!"
Haha,, lagi-lagi banyak gadis yang dibuat melting olehnya..
Memang deh ka Bagas oke banget, selain aktif kegiatan sekolah, ia memang termasuk murid yang pintar, anak IPA gitu loh...
Ada pemandangan yang lebih heboh lagi, ketika dia selesai sholat, ia duduk di laman mushola,,,dan ternyata  ada gadis-gadis yang lagi fotoin dia tanpa sepengetahuannya... ckck.. ada-ada saja...

Sejak kuliah Ka Bagas terlihat sedikit berbeda....
Rambutnya sedikit klimis dan ga banyak gaya....
Sampai-sampai hampir terlihat seperti anak Mushola..
Temannya bilang, dia ga suka lagi dengar lagu MCR, Linkin Park dan musik rock lainnya...
Haha, ternyata dia beralih kemusik nasyid dan kesenanganya Snada...

Oh ternyata dia berubah karena itu...
Berubah karena sesuatu yang membuat melting hatinya...
Ketika dia menginap dirumah Rosyid, dia selalu rajin subuh berjamaah...
Kata Rosyid, "Si Bagas hatinya meleleh dan tersentuh banget setelah dengar muraja'ah anak-anak dimasjid"
"Dia malu,,malu bener, udah gede gitu setengah juz masih kurang"
"Tiap Sholat yang dibaca kalau ngga kulhu atau annas doang"
"Yah wajar dah tuh bocah mulai sering nagafalin al-Qur'an sekarang"
"Apalagi pas diajak mabit di masjid BI, nambah melting tuh anak saat QL dan muhasabah diri"
"Hatinya bagai teriris sama duri"
"karena yang dia bingungin adalah bagaimana hidup setelah mati"

Melting dirinya karena sentuhan iman, menambah melting hati orang-orang yang ada disekitarnya, baik laki-laki ato perempuan...

"Perubahan menuju iman sebuah perjalanan yang butuh proses dan konsistensi yang panjang. Dan hidayah itu haruslah direngkuh dan dijemput oleh setiap insan. Mereka sudah menunggu dipelupuk mata. Jangan biarkan adzab menjembatani pertemuan antara kita dengannya."
(catatansangmusafir)

Jumat, 08 Juli 2011

Puisi Alqur'an pada Handphone

Aku cemburu padamu phone...
Mereka selalu membawamu kemana-mana...
Ditaru disaku atau dicelana...
Disaat mereka susah dan sedih, kau selalu jadi penjaga...

Phone, dulu bentukmu besar dan sulit dibawa-bawa..
Mereka memikirkanmu agar kau selalu bisa bersamanya...
Bergurau denganmu,,
Bercanda denganmu...
Menghilangkan kejenuhan bersamamu...
Sepertinya kamu selalu menjadi solusi atas masalah mereka..

Phone, tidak kah kau tahu..
Hatiku sakit...
Sangat sakit...
Melihatmu disebelah pembaringan mereka..
Memperhatikamu sebelum mereka menutup mata...

Sementara aku...?
Aku selalu ditinggal dirumah...
Kadang-kadang hanya dibawa dalam tas mereka...
Kadang-kadang pula aku dibaca mereka...
Selesai beribadah, yang mereka tengok bukan aku..
Tapi wajahmu...
adakah yang salah dengan diriku...?
Padahal aku sudah secantik dan semini mungkin seperti dirimu...
Aku punya aplikasi solusi yang lebih lengkap darimu...
Aku bisa menciptakan kesyahduan pada hatinya kalau saja mereka mau...
Lalu apakah pantas aku diabaikan lebih darimu..?

Phone, aku tak menyalahkan kehadiranmu...
Yang aku inginkan adalah perhatian mereka kepadaku...
Tapi tak apalah....
Mereka yang butuh aku...
Yang tak boleh dilupakan

Kamis, 07 Juli 2011

berharap

dambaan jiwa adalah selera syurga...
mencari rusuk yang ditakdirkan sesuai keinginan hati...
apa daya, raga tak mampu berdiri...
Berharap mendapat Fatimah seperti Ali..

Usman,,Usman...
Soleh berselimut kedermawanan...
Bahagia sekali hatimu...
dua cahaya telah engkau rengkuh...

Prioritas Memilih

Setiap orang mempunyai seleranya masing-masing... Semuanya cenderung berbeda-beda,,,biasanya tergantung kebutuhan dan kondisi pemahaman. Akan tetapi muara dari itu semua adalah mencari yang terbaik.
Ada puisi dari seorang pujangga amatir Indonesia :

dambaan jiwa adalah selera syurga...
mencari rusuk yang ditakdirkan sesuai keinginan hati...
apa daya, raga tak mampu berdiri...
Berharap mendapat Fatimah seperti Ali..

Usman,,Usman...
Soleh berselimut kedermawanan...
Bahagia sekali hatimu...
dua cahaya telah engkau rengkuh...

Artinya, betapa bahagianya seseorang ketika mendapat yang diidam-idamkan sesuai selera. Letak fokus pemabahasan ini adalah penilaian. Bagaimana perspektif menilai sesuatu. Tentu ada ilmu nya, dan sudah pasti ada pertimbangannya. Jika tak sesuai maka harus tetap pada prioritasnya.
Zaman ini terlalu mengajarkan orang-orangnya bersifat matrealistis, membesar-besarkan akal logika saja. Pernah kita dengar berita artis Indonesia yang dinikahkan dengan Pangeran Malaysia yang bermartabat dan kaya, kemudian sang dara disiksa di sana. Atau Fenomena di film islam KTP, dimana sang wanita yang kaya menjadikan suaminya sebagai budak. Lalu, apakah persepsi-persepsi itu sudah tercapai? Sebenarnya prioritas mana yang sudah diterapkan.
Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi (Al-Khawarizmi)
seorang ahli matematika yang termasuk dalam cendikiawan muslim pernah memberikan rumus-rumusnya tentang penilaian terhadap wanita :
"Jika kamu melihat wanita yang solehah dan taat beragama, beri nilai "1", jika ia juga cantik, maka tambahkan angka "0" dibelakang angka "1" (jadi 10), jika dia juga kaya maka tambahkan angka "0" lagi (jadi 100), jika dia juga berasal dari keturunan yang baik, maka beri lagi angka "0" (jadi 1000). Tapi jika dia tidak memiliki penialaian yang pertama, silakan kamu ambil angka 1 (jadi 000)"


Jadi memang kita harus mengubah mindset kita dalam memilih.. semoga bermanfaat

Rabu, 06 Juli 2011

Maafkan aku ukhti, yang telah membuatmu menangis...

Tenang kumelangkah meninggalkan jejak...
Merefleksikan diri dari banyaknya putaran roda...
Tak seorang pun tau siapa yang datang...
Hanya ada hati yang pilu mendengar suara yang tersedu sedan....

Kulihat, ukhtiku sedang menagis...
Kulihat dan kuhampiri...
Ku ajak bicara, ia tak bilang apa-apa...
Ku ajak bercanda, ia hanya bilang huruf "a"
Hee,,,aku maklumi hal itu sebagai kelemahan dirimu...

Ukhti, mawarku...
Kuajak kau melihat kerasnya dunia ini...
Suatu saat, kau akan menangis dan tertawa dibuatnya..
Fisikmu boleh saja berubah,,,
Tapi hatimu harus tetap dijaga agar murni dari dosa...
Oh tidak,,,kenapa kamu menangis lagi..

Sahabat-sahabat sekalian,,,dalam perjalanan ini, kita pernah bahkan sering bertemu beberapa orang ulama,,atau sebut saja orang-orang soleh...
Terkadang kita menemukan keteduhan diwajahnya...
Tak lain tak bukan, karena kasih sayang dan rahmat dari-Nya...

Tidak ada dosa pada diri seorang bayi, adalah kepastian...
Tapi tak ada dosa pada seorang kiyai adalah kemungkinan...
Oleh karena itu wajar kalau wajah tanpa dosa itu sering membenamkan emosi yang akan bangkit dari jiwa...
Karena hakikat kita adalah tidak mencintai dosa dan keburukan,,,seandainya kita benar-benar menyadari hal itu..
Mari perbaiki diri... ^_^

Semoga bermanfaat...
salam dariku dan myniece

Curhatanku tentangmu, Ukhti

Ukhti,,,
Semenjak kamu ada, ada yang berbeda dengan perasaanku..
Seolah-olah rembulan hadir ditengah teriknya hati ini...
Memberikan warna bagai pelangi...
Menghembuskan angin semangatku di pagi hari..
Memberi ketenangan di malam hari...

Ukhi,,,
Yang selalu menjadi inspirasiku akhir-akhir ini...
Yang menghilangkan lelahku saat pergi...
Yang membuatku gundah gulana, ketika aku harus meninggalkanmu...
Atau yang membuatku emosi disaat kau pergi...

Ukhti,,,
Andai kau tahu...
Andai kau bisa baca curahan hatiku ini...
Melihat ekspresiku, betapa rindunya aku padamu..
Walaupun mustahil, karena belum saatnya engkau tahu..
Suatu saat kau pasti mengerti...

Ukhti,,,
Kau adalah kekuatan superku,,,
Dengan melihat embun kedamaian diwajahmu...
Gunung yang ada dipundakku terasa cair dengan senyumanmu...
Harummu, membuatku tak sabar ingin berjumpa...

Ukhti,,,
Jadilah engkau wanita yang solehah...
Yang taat pada suami,,lebih-lebih pada orang tua...
Agar engkau bisa berjumpa dengan Rabbmu dalam hati yang bahagia...
Udah dulu ukhti, aku mau menyelesaikan tugas kuliah..
Aku harap bisa bertemu denganmu sore nanti...
Salam kangen... Nazwa Habibah...

Buah Mengimani Hari Akhir

Oleh: KH Rahmat Abdullah

Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang, baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. ''... jika berselisih tentang sesuatu, hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir... (Qs 4:59).

kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65). Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga moral-spiritual.

Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai di akhirat nanti.

Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).

Demikianlah para rasul dan para pengikut tidak merasakan kepedihan dalam perjuangan. Kalau wajah seorang Yusuf AS, remaja yang tampan, telah membuat perempuan-perempuan di Mesir mengiris-iris jari-jari mereka tanpa sadar, betapa keindahan surga dan kepastian janji Allah telah membuat para pejuang di jalan-Nya sama sekali tidak merasa rugi, kalah atau sia-sia. Sebaliknya, mereka yang menzalimi diri sendiri atau sesama harus segera ingat bahwa ada batas usia bagi kehidupan dan ada persidangan yang adil. Sesudah itu kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.

Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ''... pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah'' adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ''Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan... (Qs 24:37)

Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

'Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah ....'' (QS 9:18). Penyiksaan terhadap keluarga Yasir RA sangat brutal, khususnya pembunuhan Sumayah, istri Yasir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan berharap. Keluarlah kata bersayap Rasulullah, ''Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat kalian berjumpa (esok) di surga.''

Sangat menyentuh dan membuat gairah takwa saat membaca atau mendengar ayat-ayat Hari Akhir, ''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.'' (Addzariyat: 14-19).

[Republika, Hikmah, 16 November 2002]

Militansi

Oleh: KH Rahmat Abdullah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ba’da tahmid wa shalawat.

Ikhwah rahimakumullah,

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 : Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah ..”.

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,

Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat.

Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,

Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam: “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12: “Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,

Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri.

Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir’aun.

Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 :

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.

“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.

Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya.

Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).

Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada Tuhan kita”.

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi).

Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.

Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian.

Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.
Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah.

Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bis shawab.

Cermin Diri

KH Rahmat Abdullah

Orang-orang bijak pernah berpesan "Ma halaka ‘amru-un arafa Qadra nafsihi" (Tak akan celaka orang yang kenal harkat dirinya). Telah banyak orang binasa karena terlalu tinggi memasang harga diatas realita dirinya. Banyak yang lenyap dari peredaran karena terlalu murah menghargai dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau perasaan tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah bisa menyadari dimana posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang mengancam ummatnya.

Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau pemerintahan kerap terjebak dalam wa-ham-waham kekuasaan ; berbahasa dan bertindak dengan pendekatan kekuasaan. Mereka yang ‘berkuasa’ merasa percaya diri, hanya karena secara de jure punya otoritas atas wilayah territorial, wilayah problematika dan wilayah sumber daya manusia. Bahwa wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan begitu saja oleh senjata, uang dan kedudukan, kerap luput dari renungan. Entah karena inikah ketika ALLAH mengaitkan keselamatan dunia dengan keberadaan Ulu Baqiyah (orang-orang yang potensial dipertahankan keberadaannya) dan mengemban misi ‘mencegah kerusakan di muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang (berbakat) zalim terus saja mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan karenanya mereka menjadi durhaka (Qs. 10;116).

Ghurur Hal terberat yang kau hadapi bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sekeras apapun hati mereka, kekuatan Hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan idzin-Nya. Bila itu pun tidak, engkau tak akan dipersalahkan, karena tataranmu dakwah dan tataran-Nya hidayah. Cobaan berat, justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Engkau nikmati benar sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu. Malang nasibmu wahai orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu. Mentalitas Qarun tersimpul dalam satu kalimat "Hadza Li" (Semua ini karyaku, karena aku, milikku).

Ketika arogansi mendominasi hubungan ‘yang adi daya’ dengan ‘yang tak berdaya’, maka yang pertama harus membayar ongkos yang sangat mahal ; dari antipati sampai kutukan mereka yang tak berdaya. Berat menyadarkan orang yang otaknya berjelaga, egois dan hanya melihat apa yang mereka anggap hak, tanpa kesadaran seimbang akan kewajiban. Kepada mereka Imam Syafii menegaskan :

Bila engkau mendekatiku, mendekat pula cintaku Jika engkau menjauh, aku kan lebih jauh darimu Dalam hidup masing-masing kita Tak bergantung dengan saudara Dan kita lebih tidak bergantung lagi bila tamat usia

Orang yang mentah fikiran selalu mengandalkan sanjungan kosong, tak berbasis pada prestasi, atau mungkin mereka berprestasi, namun menganggap itu sebagai hal besar yang memungkinkan mereka memonopoli kebajikan. "Mereka membangkit-bangkit keislaman mereka (sebagai jasa) kepadamu. Katakan : ‘Janganlah kalian bangkit-bangkitkan kepadaku keislamanmu, akan tetapi ALLAH lah yang telah memberi karunia besar dengan membimbing kalian kepada Iman…" (Qs. 49:17)

Sebelum bubarnya Uni Sovyet, ada dua spesies yang sangat dibenci rakyat ; 1. Partai Komunis, 2. etnik Rus. Yang pertama dibenci karena selalu ingin campur dalam segala urusan orang. Dari urusan menteri, tentara, pegawai negeri, isteri pegawai, anak pegawai sampai mimpi-mimpi rakyat. Yang kedua tak tahu diri sebagai mayoritas, bagaikan truk besar yang berlari kencang, anginnya mementalkan kendaraan-kendaraan kecil di tepi jalan.

Cermati bagaimana karakter kekuasaan itu tumbuh. Banyak orang yang berkuasa mengabaikan pengenalan wilayah-wilayah kekuasaan dengan segala karakternya. Pemerintah yang mempunyai otoritas memulainya dengan 3 wilayah : 1. Wilayah ardliyah (teritorial), 2. Wilayah insaniyah (kemanusiaan, SDM, rakyat), 3. Wilayah masailiyah (problematika). Dengan ketiga otoritas ini mereka dapat menggusur tanah rakyat, membagi HPH, menaikkan pajak, tarif, UMR, memainkan money politik, mencetak uang untuk kepentingan partai, membunuh karakter lawan politik dan memenjarakan mereka. Berapa lama mereka dapat berkuasa dengan tiga pilar ini ? Entahlah, yang jelas telah bertumbangan begitu banyak rezim dengan begitu banyak dana, senjata dan tentara. Mereka melupakan 2 wilayah yang sebenarnya pagi-pagi harus sudah dikuasai, bahkan sebelum mereka menguasai wilayah-wilayah lainnya. Jauh sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, rumah-rumah disana sudah menaungi begitu banyak muslim.

Pada penghujung era Makkiyah, baiah Aqabah II telah menyuratkan pesan yang begitu kuat. "Kami siap melindungi Rasulu’Llah SAW, sebagaimana kami melindungi anak-anak dan isteri-isteri kami". Madinah telah dikukuhkan menjadi bumi Islam sebelum para Muhajir berangkat kesana. Rasulullah sudah ditunggu dengan segala kerinduan, sebelum mereka melihat wajahnya. Da’wah Qur-an telah mengakar dalam wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah mereka, dua wilayah yang pada saatnya melahirkan energi besar, mengalahkan semua penguasa yang hanya berpuas diri dengan tiga wilayah yang serba refleks, fenomenal dan efektif untuk waktu singkat.

Wahan Tak kalah beratnya beban mental orang yang sama sekali tak mampu memberikan kontribusi. Ia sendiri tak mampu membantu dirinya sendiri, bahkan dengan sekedar percaya dan menyadari bahwa dirinya dapat berperan. Paradigma "La syai-a indi" (Saya tak punya apa-apa), telah banyak merugikan ummat. Dari sini orang berbuat, dari kontra produktif sampai amoral. Ia tak merasa ada kaitan sepak-terjangnya dengan lingkungannya. Ia mampu melumuri citranya – sama seperti mereka yang over pede – tanpa cemas hal itu akan berdampak luas, bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Mereka banyak memubadzirkan umur dan hidup tanpa program. Rendah diri dan karenanya tak jarang merawat hasad, dengki dan khianat.

Mereka dapat tampil dalam figur seorang alim, publik figur dan apa saja yang ‘mulia’, namun mengabaikan berkah amal jama’i, karena merasa ‘tak sebodoh’ komunitasnya atau lupa bahwa dirinya (dapat menjadi) besar di tengah mereka. Terkadang batas antara orang yang berlebihan percaya diri dengan yang sangat tak percaya diri, begitu sulit dibedakan. Kritik pedas bisa datang dari mereka yang gagal melaksanakan apa yang dikritiknya. Atau yang tak cukup punya keberanian berargumentasi karena kurang pedenya.

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya menopang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang ALLAH amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja dan lahan kerja Da’wah tak pernah tutup.

Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan akan keberatan bila kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini dengan benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus, sehingga berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon keadilan, buah kemakmuran, bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu menciptakan iri. Ada yang begitu geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar dari setiap gang dan kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang dibangun dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang bukan hanya sisi ini, namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek ini. Intinya ; Perubahan.

Dan hari ini puncak gunung es itu telah memperlihatkan dinamika besar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid adalah sistem konstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada tempat, peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu yang tak pernah padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan. Yang tak bergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute yang jelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar dan sabar.

Dari semua setting ini, tentukanlah dimana posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelom-bang dan di seberang ada pantai harapan