Kamis, 07 Juli 2011

Prioritas Memilih

Setiap orang mempunyai seleranya masing-masing... Semuanya cenderung berbeda-beda,,,biasanya tergantung kebutuhan dan kondisi pemahaman. Akan tetapi muara dari itu semua adalah mencari yang terbaik.
Ada puisi dari seorang pujangga amatir Indonesia :

dambaan jiwa adalah selera syurga...
mencari rusuk yang ditakdirkan sesuai keinginan hati...
apa daya, raga tak mampu berdiri...
Berharap mendapat Fatimah seperti Ali..

Usman,,Usman...
Soleh berselimut kedermawanan...
Bahagia sekali hatimu...
dua cahaya telah engkau rengkuh...

Artinya, betapa bahagianya seseorang ketika mendapat yang diidam-idamkan sesuai selera. Letak fokus pemabahasan ini adalah penilaian. Bagaimana perspektif menilai sesuatu. Tentu ada ilmu nya, dan sudah pasti ada pertimbangannya. Jika tak sesuai maka harus tetap pada prioritasnya.
Zaman ini terlalu mengajarkan orang-orangnya bersifat matrealistis, membesar-besarkan akal logika saja. Pernah kita dengar berita artis Indonesia yang dinikahkan dengan Pangeran Malaysia yang bermartabat dan kaya, kemudian sang dara disiksa di sana. Atau Fenomena di film islam KTP, dimana sang wanita yang kaya menjadikan suaminya sebagai budak. Lalu, apakah persepsi-persepsi itu sudah tercapai? Sebenarnya prioritas mana yang sudah diterapkan.
Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi (Al-Khawarizmi)
seorang ahli matematika yang termasuk dalam cendikiawan muslim pernah memberikan rumus-rumusnya tentang penilaian terhadap wanita :
"Jika kamu melihat wanita yang solehah dan taat beragama, beri nilai "1", jika ia juga cantik, maka tambahkan angka "0" dibelakang angka "1" (jadi 10), jika dia juga kaya maka tambahkan angka "0" lagi (jadi 100), jika dia juga berasal dari keturunan yang baik, maka beri lagi angka "0" (jadi 1000). Tapi jika dia tidak memiliki penialaian yang pertama, silakan kamu ambil angka 1 (jadi 000)"


Jadi memang kita harus mengubah mindset kita dalam memilih.. semoga bermanfaat