Jumat, 12 Agustus 2011

Cinta Bersemi di Pelaminan


Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan

dari blognya anis mata

Minggu, 07 Agustus 2011

Ada cinta di sudut sana...

Ada cinta disudut sana. Tatapannya begitu hangat. Bibirnya selalu berucap. Dia berdiri di samping tiang, sedikit mendapat angin ketika kereta sedang berjalan. Matanya seperti tak mau bergerak dari yang dibaca. Terlihat khusyu' dan benar-benar menciptakan nuansa keteduhan dalam naungan bulan suci. Para tetangga di sebelah sedang sibuk baca koran, ada yang diam/melamun, ada pula yang sedang memaduh kasih dengan sesama. Hanya ia yang berbeda. Ya, dia sedang tilawah Al-Qur'an.

Bulan Ramadhan, ya memang inilah momentumnya. Sebuah momen dari para sang pecinta (sebenarnya) membuat cerita romantika. Yang tak mengenal waktu dan tempat, hanya untuk mendapat kasih sayang dan perhatian dari yang dicinta. Dilorong-lorong, jalan, angkutan umum, bahkan diwaktu dan tempat yang sempitpun tak pernah dilewatinya untuk memadu kasih.

Ia adalah sebagian kecil yang terlihat. Pernah ada seorang pedagang yang komat kamit, ternyata dia bukan membaca jampi-jampi, tetapi membaca surat cinta yang ia ingat. Di mikrolet dengan percaya diri, sesorang membaca dzikir pagi. Di bus terlihat seorang ibu yang mengeluarkan Al-Qur'an besar, kemudian membacanya. Apakah mereka semua merasa malu? Tidak ! karena mereka benar-benar cinta.

Coba lihat orang-orang yang sedang jatuh cinta, mereka rela melakukan apa saja untuk yang dicinta.Berteriak ke semua orang "Aku Cinta Kamu..!". Bahkan di tayangan televisi banyak cara/kreativitas untuk menunjukan rasa cintanya. Sepertinya ada sesuatu yang hilang apabila sekejap saja tak berjumpa. Begitulah rasa dan perilaku yang di selimuti oleh rasa cinta. Hanya saja objeknya yang berbeda-beda.

Artinya cinta menimbulkan rasa percaya diri yang begitu besar untuk diungkapkan. Rasa malu seolah menjadi tembok yang rapuh yang mudah ditembus dengan rasa kangen akan kekasih. Bahkan ketika sulit menemukan waktu bersama bahkan tak berjumpa lagi, yang ada hanyalah kesedihan. Lihat bagaimana Abu Bakar AsShiddiq menangis tersedu sedan ketika Rasulullah membacakan surat Al-Maidah ayat 3, yang merupakan wahyu terakhir yang diterima Rasulullah. 
Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, telah mencukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah meridhai Islam menjadi agama bagi kalian
Para sahabat ketika penuh heran dn bertanya-tanya, padahal di hari itu umat islam datang dengan penuh kemenangan. . Mengapa Abu Bakar menangis. Ia bersedih lantaran yang turun adalah wahyu terakhir. Artinya tak akan ada lagi surat cinta dari Allah yang selalu mengiringi dan memberikan solusi atas permasalahan kaum muslimin. Subhanallah penempatan cinta yang sebenarnya. Ia tidak malu untuk menangis ditengah para sahabat, yang tak lain karena Al-Qur'an. 

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah sudah seperti ia yang tak malu memperlihatkan rasa cintanya di tengah jalan? Bukan hanya berteriak-teriak untuk sesama, tapi untuk memuji Tuhannya. Atau sesyahdu Abu Bakar, ketika tak mendengar wahyu-wahyu yang akan turun lagi. Apapun itu patutlah kita sadari dengan sebenar-benarnya. Tak perlu malu mengeluarkan Al-Qur'an untuk dibaca. Lantaran semua itu berharap pada cinta, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga kita termasuk orang-orang yang cinta Allah dimana saja dan kapan saja. Amiin

Selasa, 02 Agustus 2011

Duhai diri,,, menangislah...

Duhai diri, menangislah...
Menangislah ketika engkau tak lagi khusyu' beribadah..
Menjadikan aktivitas itu sekedar gerakan kosong...
Berfikir yang tak fokus kepada Tuhan...
Banyak angan dan akhirat pun terlupakan..


Duhai diri, menangislah...
Menangislah ketika puasamu hanya sekedar menahan lapar dan dahaga..
Tak peka makna arti hadir Tuhan di sampingmu..
Kemaksiatan masih bergerilya menyertaimu...
Tak peduli Ar-Rayan kau dapati atau tidak..


Duhai diri, menangislah...
Menagislah ketika malam-malammu dipenuhi dengan dengkuran...
Memanjakan syaitan dalam angan-angan,,,
Terlelap bagai kerbau yang tak perduli singa di depannya...
Tak peduli Tuhan yang telah menunggu disepertiga malam...
Sementara makhluknya setiap waktu kau temui...


Duhai diri, menangislah...
Menangislah ketika kitab suci tak jadi pedoman...
Lagu-lagu nasehat tak jadi pelajaran...
Menikmati suara sang kafir yang mendayu-dayu...
Sehingga kau lupa siapa dirimu...


Duhai diri, menangislah...
Menangislah ketika Ramadhan kau buang percuma...
Seolah-olah setiap waktu kau akan berjumpa..
Saat sepertiga malam kau makan...
Kemudian melelapkan siang dan membiarkan malam..
Tak satupun amalan yang kau banggakan..
Kecuali keluh kesah saat lapar..
Dan mengkufuri hidangan disaat makan...


Duhai diri, menangislah...
Menangislah ketika engkau tak mampu lagi menangis..
Muhasabahmu adalah lagu-lagu makhluk...
Perasaanmu biasa ketika mendengar ayat...
Padahal, orang yang beriman hatinya bergetar ketika mendengar nama-Nya...


Ya Rabb...
Jadikan aku benar-benar mencintai-Mu sepenuh hati..
Menjadikan mata ini tak tersentuh api-Mu...
Lebih nyaman dekat diri-Mu...
Dan mendekat kepada-Mu bukanlah suatu hal yang berat..

Ramadhan, konsistensi dan kerinduan

Ramadhan sudah datang...
Menghampiri keceriaan orang-orang yang telah merindukannya. Ingin membuktikan cinta atas orang-orang yang telah mengakui cinta kepadanya...
Adakah yang telah membaca berlembar-lembar Al-Qur'an hari ini?
Adakah yang telah sholat jamaahnya tidak terputus sampai hari ini?
Adakah yag mulai meramaikan malam-malam untuk berjumpa dengan Tuhannya, tidak sekedar hanya untuk mengisi perut?
Adakah yang mulai untuk saling berbagi walau dihadapkan dengan kesulitan yang mendera dan harus mementingkan saudaranya?
Adakah sikap-sikap jahiliyah itu mulai hilang pada hari ini?
Masih adakah dendam dan amarah setalah berjanji untuk memaafkan?
Apakah cinta yang telah diucapkan itu benar-benar dibuktikan?
Ya Allah,,, maafkan lah hamba-Mu yang lalai ini...

Seorang perindu dan pecinta sejati, pasti bisa lebih melakukan semua itu. Bahkan mereka bisa melukiskannya dengan lebih indah. Membuat waktu seakan-akan tak mau pergi dan membiarkan mereka berdampingan dalam balutan nuansa kesyahduan dalam beribadah. Tak ada masalah lapar dan dahaga di sana. Apalagi menyalurkan maksiat pada saat itu. Semuanya full dengan Muraqabatullah...  Bahkan sang pecinta itu sedih, ketika waktu yang terbuang dengan banyak tertidur..

Kehidupan sosial sontak berubah, tayangan adzan maghrib yang biasa diganti ketika hari-hari biasa, menjadi tayangan favorit dan ditungu-tunggu..
Makanan telah dihidangkan ketika menjelang senja... menanti insan yang akan mengambil haknya...
Ya,,, Hari pertama ini begitu luar biasa... Hampir semua waktu sholat selalu penuh oleh jamaah... Alhamdulillah..
"Ya Allah ya Tuhan kami, Jadikan hari-hari esok dan hari-hari biasa setelah bulan ini, menjadi seperti hari pertama di Bulan Ramadhan"

Semoga kebiasaan tahun-tahun sebelumnya tak terulang...
Jamaah itu kian lama, kian mundur perlahan...
Terik siang tak sibuk dengan amalan melainkan dengan rasa lapar...
Waktu lebih banyak mengeluh dan tidur...
Berbelanja menjadi pilihan utama dibanding memanfaatkan waktu dengan bulan yang dianggap dicinta,,,
Adakah orang-orang yang masih konsisten (istiqamah) di jalan ini?
Jika ada berapa jumlahnya?
Lalu yang lain kemana?

Apakah kerinduan itu hanya ada pada sekedar botol sirup dan es buah yang dihidangkan?
Kue-kue dan aneka jenis makanan yang dibeli atau dibuat?
Atau suasana serba baru nanti di akhirnya?
Ya Allah.. begitu hinakah hamba menjadikan bulan ini sebagai mitra dagang?
Bukan kekasih...

Sahabat musafir yang budiman...
Masih ada waktu.. mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya,,,