Ada cinta disudut sana. Tatapannya begitu hangat. Bibirnya selalu berucap. Dia berdiri di samping tiang, sedikit mendapat angin ketika kereta sedang berjalan. Matanya seperti tak mau bergerak dari yang dibaca. Terlihat khusyu' dan benar-benar menciptakan nuansa keteduhan dalam naungan bulan suci. Para tetangga di sebelah sedang sibuk baca koran, ada yang diam/melamun, ada pula yang sedang memaduh kasih dengan sesama. Hanya ia yang berbeda. Ya, dia sedang tilawah Al-Qur'an.
Bulan Ramadhan, ya memang inilah momentumnya. Sebuah momen dari para sang pecinta (sebenarnya) membuat cerita romantika. Yang tak mengenal waktu dan tempat, hanya untuk mendapat kasih sayang dan perhatian dari yang dicinta. Dilorong-lorong, jalan, angkutan umum, bahkan diwaktu dan tempat yang sempitpun tak pernah dilewatinya untuk memadu kasih.
Ia adalah sebagian kecil yang terlihat. Pernah ada seorang pedagang yang komat kamit, ternyata dia bukan membaca jampi-jampi, tetapi membaca surat cinta yang ia ingat. Di mikrolet dengan percaya diri, sesorang membaca dzikir pagi. Di bus terlihat seorang ibu yang mengeluarkan Al-Qur'an besar, kemudian membacanya. Apakah mereka semua merasa malu? Tidak ! karena mereka benar-benar cinta.
Coba lihat orang-orang yang sedang jatuh cinta, mereka rela melakukan apa saja untuk yang dicinta.Berteriak ke semua orang "Aku Cinta Kamu..!". Bahkan di tayangan televisi banyak cara/kreativitas untuk menunjukan rasa cintanya. Sepertinya ada sesuatu yang hilang apabila sekejap saja tak berjumpa. Begitulah rasa dan perilaku yang di selimuti oleh rasa cinta. Hanya saja objeknya yang berbeda-beda.
Artinya cinta menimbulkan rasa percaya diri yang begitu besar untuk diungkapkan. Rasa malu seolah menjadi tembok yang rapuh yang mudah ditembus dengan rasa kangen akan kekasih. Bahkan ketika sulit menemukan waktu bersama bahkan tak berjumpa lagi, yang ada hanyalah kesedihan. Lihat bagaimana Abu Bakar AsShiddiq menangis tersedu sedan ketika Rasulullah membacakan surat Al-Maidah ayat 3, yang merupakan wahyu terakhir yang diterima Rasulullah.
Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, telah mencukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah meridhai Islam menjadi agama bagi kalian
Para sahabat ketika penuh heran dn bertanya-tanya, padahal di hari itu umat islam datang dengan penuh kemenangan. . Mengapa Abu Bakar menangis. Ia bersedih lantaran yang turun adalah wahyu terakhir. Artinya tak akan ada lagi surat cinta dari Allah yang selalu mengiringi dan memberikan solusi atas permasalahan kaum muslimin. Subhanallah penempatan cinta yang sebenarnya. Ia tidak malu untuk menangis ditengah para sahabat, yang tak lain karena Al-Qur'an.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah sudah seperti ia yang tak malu memperlihatkan rasa cintanya di tengah jalan? Bukan hanya berteriak-teriak untuk sesama, tapi untuk memuji Tuhannya. Atau sesyahdu Abu Bakar, ketika tak mendengar wahyu-wahyu yang akan turun lagi. Apapun itu patutlah kita sadari dengan sebenar-benarnya. Tak perlu malu mengeluarkan Al-Qur'an untuk dibaca. Lantaran semua itu berharap pada cinta, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga kita termasuk orang-orang yang cinta Allah dimana saja dan kapan saja. Amiin

