Rabu, 16 Januari 2013

Cuaca Ekstrem melanda Dunia

Hari ini hujan sering turun, dan menggenangi sebagian wilayah jakarta. Efeknya tidak hanya air yang memasuki rumah warga. Jalanan pun kini terendam. Jakarta yang macet jadi tambah macet. Pengendara jadi tambah mumet. Yang marah jadi tambah marah. Yang hobi mengkritik jadi tambah mencela, mencela pemimpinnya. Semua rasa yang berkecamuk itu tumpah ruah, seperti air yang mengalir di kota metropolitan ini. Saya rasa ini tanggung jawab bersama, tidak hanya institusi pemerintahan, tapi juga masyarakatnya. 

Cuaca yang ekstrem terjadi di belahan dunia. Sampai-sampai dosen dikampus saya menyuruh mahasiswa membuat tulisan tentang sun activity. Di beberapa negara mengalami cuaca yang buruk dibanding puluhan tahun sebelumnya. bandai sandy di Amerika. Cina mengalami musim dingin yang tak biasa. 3,8 derajat celcius dibawah nol. Namun di Antartika sudah mencapai 89.2 derajat celcius. Di timur Tengah, terjadi banjir bandang dan salju yang menumpuk begitu tinggi. Di Australia sebaliknya, cuaca panas ekstrem terjadi. Bayangkan, 41,8 derajat celcius. Gelombang panas yang menyulut api dan menyebabkan kebakaran. Di Indonesia pun demikian, angin kencang disertai curah hujan yang banyak menimbulkan banyak hambatan bagi masyarakat. Akibatnya, banyak pohon yang tumbang, banjir, dan kondisi kesehatan masyarakat yang terganggu. Dan masih banyak lagi fenomena alam yang tidak bersahabat.

Tuhankah yang marah..
Atau manusia yang berulah...
orang-orang yang tak tahu malu...
menganggap diri tak bermasalah...
tak mau belajar tentang sejarah...
ketika daratan dipenuhi air bah...
gunung yang berguncang keras dan gempa...
sebagian bumi yang dibalikan membuat yang berdiri diatas musnah...

air yang mengalir tak tahu apa-apa....
mengapa disalahkan...
mereka yang nyampah...
mengapa tak diancam...
tak adil buat bumi...
tempat yang dihujat sekaligus dihuni...
dalam berbisi kmungkin bumi ingin berteriak...
"Jika Tuhan menghendaki
Bersiaplah wahai pendudukku (bumi)
akan ku keluarkan isiku, dan menabrakan diri ke planet"
kemudian hancur lebur, tak ada satupun diantara kamu...
ya, aku dan kamu hancur,,,"
yang hanya menunggu waktu...

Tuhan, ajari kami cara menghargai..
menghargai alam..
menghargai sesama...

Telah nyata kerusakan di darat dan di laut dari sebab perbuatan tangan manusia, supaya mereka deritakan setengah dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali."
(Ar Rum : 41)