Senin, 02 Desember 2013

Ragu Ragu tapi Seru - Pendakian Gunung Slamet (1)

Wah wah,, uhug uhug.. Blog udh lama ga dibuka ternyata banyak debu.. hehe :P
Wajarlah, nama blognya aja catatan sang musafir, berarti yang punya sering jalan-jalan... saking seringnye ampe lupe nulis (betawi dikit plus ngeles).. hehe

Pertengahan september 2013, tepatnya ditanggal 13-15.. adalah sebuah perjalanan yang berbeda dari biasanya yang pernah saya lakukan. Naik Gunung. Iya naik gunung. Sebuah pengalaman pertama dan cukup indah yang terukir di puncak berbatu dan pasir. Puncak Gunung Slamet
Awalnya terinspirasi dari sebuah kejenuhan yang melanda. Fikiran yang mencari-cari ruang rekreasi. Kebosanan-kebosanan suasana kota. Dan kerinduan suasana alami, untuk sedikit merenung tentang hakikat manusia. Maka lahirlah ide untuk naik gunung. (Kalau ada persepsi lain dari teman saya tentang alasan saya naik gunung, sebaiknya konfirmasi ke saya, nanti akan saya jelaskan sejelas jelasnya,,, hehe :P).
Ide sudah ada. Selanjutnya adalah realisasi. Saya mencari teman untuk mendaki bersama. Awalnya hanya untuk teman-teman BEM PNJ, namun ada teman lain yangg juga berminat bergabung dalam trip ini. Alhasil 10 orang yang fix ikut dalam pendakian. Sebenarnya ada 13 orang yang bersedia ikut, Ergin mendadak tidak bisa, Deddy rapat kantor mendadak, dan Ary ketinggalan perlengkapan dan logistiknya di tempat deddy.. hadeeeh -___-.. Kehilangan 2 nama terakhir menjadi fikiran tersendiri buat saya. Bayangkan, trip ini saya rencanakan sejak awal (setelah pulang dari anak Krakatau) dengan Deddy, eh malah dia yg ga ikut -___-. Mana tabung gas dan tenda ada di tempat dia... Mau masak pakai apa nantinya disana ?? Ary adalah orang yang paling siap dalam trip ini, perlap dan logistik terlihat komplit di dalam carrier, sayangnya ketinggalan di tempat Deddy. Walaupun dia hampir sampai di stasiun, tapi dia memutuskan untuk tidak berangkat, karena khawatir kendala di perlap dan logistik.
10 orang berkumpul di stasiun Senen, tempat meeting point kita. Beberapa teman baru sudah datang. Teman baru tapi terlihat seru. Tapi hati masih ragu, tenda yang ada hanya satu, sisanya dirumah Deddy. Ngebayang tidur diluar...brr bbrrr ... Satu persatu personel tiba. Sapta datang seperi malaikat (lebay). Dia datang membawa 2 buah tenda dan parafin. Alhamdulillah,, harapan hidup di puncak masih ada ^_^

Tuuttttt Tutttttt... kereta berangkattt....


Tiba distasiun Purwokerto kami langsung packing ulang isi bawaan, sambil menunggu mobil carteran yang akan membawa kita ke Bambangan. Amazing, mobil carteran hanya muat 10 orang, itu juga desekan-desekan. Perjalanan ke bambangan yang berliku-liku, membuat perut terkocok. Mual. Tapi alhamdulillah sampai Bambangan dengan selamat.
suasana pagi di Bambangan
Sampai di basecamp, kami bersegera untuk mendaftar (simaksi). Sebagian ada yang makan, ada juga yang menikmati pemandangan diluar. Ternyata ada kendala. Registrasi tak bisa dilakukan karena ada pendaki yang tersesat di gunung dan sampai saat ini belum ditemukan!!!!!  Alhasil perjalanan tertunda. Diperbolehkan mendaki jika pendaki yang tersesat itu ditemukan. Penonton pun kecewa (hehehe). Sebenarya Saya sudah mengetahui ada pendaki yang tersesat di Gunung Slamet pada saat di kereta. Saya mengira hal tersebut tidak akan mempengaruhi pendakian. Tapi hasil tak sesuai yang diharapkan.... :(
 menanti pergerakan tim SAR Bambangan

Kami bekumpul untuk membicarakan masalah ini. Diskusi temtang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Bisa jadi pendaki yang hilang ditemukan hari ini, bisa juga esok harinya. Itu berarti pendakian bisa dilakukan esok harinya. Kami semua mempunyai pekerjaan di hari senin. Tambahan waktu pendakian artinya bakal banyak yang izin. Tiket kereta yang terbeli untuk pulang bisa terbuang. Akan banyak waktu, dana, tenaga dan fikiran yang dihabiskan jika kami tak mendaki hari ini. Apapun yang terjadi kita semua telah sepakat, jika memang harus esok memulai pendakian, maka segala resikonya siap kami ambil. Karena sayang jika harus pulang, dan kehilangan momen momen yang bisa kami ambil disini. Entah carrier yang berat atau surat izin cuti yang terlanjur dibuat. Tak rela jika semua itu sia-sia :)...
Sembari menunggu asa, kami istirahat di basecamp. Tidur-tiduran, sambil disuguhkan makanan oleh yang punya rumah (baik sekali). 
Wajah-wajah lelah nan kecewa itu tertutup oleh mata yang terpejam... Menunggu kepastian yang tak tahu arah kapannya datang. Doa-doa dan harapan menghiasi ruangan. Berharap hari ini bisa melakukan pendakian... Tapi entahlah, yang bisa dilakukan saat ini hanya meratakan badan.. Sleeppppp zzZZzzzzzz

 
istirahat di basecamp


To be Continued....