Kamis, 05 Desember 2013

Tektok Mt. Cikuray


Dua minggu berselang setelah pendakian Mt. Slamet, teman kembali mengajak untuk mendaki Gunung Cikuray. Susah emang kalau punya temen maniak gunung ... :p. Dikit-dikit gunung, Tiap minggu mau ke gunung. Nah biayanya siapa yang mau nanggung ??? ^_^
Mikir 3 kali sih untuk ikut. Karena bebenturan dengan kerja dan kuliah. Kerja sih ga masalah bisa cuti. Kalau kuliah itu yang ga bisa ditinggal. Tapi akhirnya diputuskan untuk ikut juga. Berharap dosen ga masuk kuliah... hehe.. Amiin
Perjalanan dimulai dengan berkumpul di terminal Kp. Rambutan. Di sana saya bertemu dengan teman-teman baru lagi, kecuali Deddy dan Ary yang sebelumnya sudah saya kenal. Dari Kp Rambutan sampai di Basecamp (Pemancar) kami mencarter angkot. Efektif juga sih, karena kalau naik bus dan kemudian harus sewa mobil bak di terminal untuk sampai ke Pemancar agak ribet. Makan waktu dan capek tawar menawar. Pulang pergi kami naik angkot tersebut. Alhamdulillah, supir angkotnya bisa dibilang termasuk pengelola Mt. Cikuray. Terlihat ketika ingin sampai di Penmancar, ia terlihat berkordinasi dengan penjaga di basecamp untuk bertanya kondisi yang terjadi disana, sekaligus meminta bantuan petugas untuk membuka portal yang menghalangi mobil kami.
Basecamp sudah terlihat, namun mobil kami tidak kuat menanjak. Beberapa orang dari kami turun dari mobil untuk berjalan. Termasuk saya. Dan Brrrbrrrbrrr... Dingin banget. Saya sengaja melepas jaket untuk merasakan posisi terdingin, sekaligus agar suhu tubuh saya bisa beradaptasi dengan dinginnya pegunungan. Sampai di basecamp kami packing ulang perlengkapan. Beberapa barang yang tidak dibutuhkan saya taruh di mobil. Oiya, kita telah ditunggu oleh seorang giude yang bernama kang Dede. Beliau yang mengantarkan kami ke puncak dengan pengalamannya dan speed mendakinya yg luar biasa... hehe
Pukul 24.00 kita siap mendaki. Kang Dede memimpin doa. Berharap perjalanan kita lancar dan selalu terjaga. Amiin...
Rembulan menjadi pelita pelita perjalanan kami. Di samping headlamp dan senter yang kita pakai. Perkebunan yang terbentang luas tak begitu jelas terlihat.  Hanya bayang-bayang dan pepohonan besar nan rindang yang menjadi pegangan kami dalam pendakian. 
Semua fokus ke langkah kaki. Mencoba mengimbangi jejak langkah kang Dede. Kurang dari 5 menit kami berjalan, beberapa rekan meminta untuk istirahat. Saya melihat nafas mereka terengah-engah, mugnkin karena adaptasi suhu yang begitu lambat. Atau karena memang lelah, karena kami tak sempat istirahat lebih lama ketika di basecamp. Tapi semangat mereka tetap membara, walau perlahan yang penting tetap berjalan. Sebenarnya saya merasakan hal yang sama. Mental saya pun sempat jatuh. Merasa tidak kuat di pendakian ini. Merasa down, dan ingin kembali ke basecamp. Tapi awalan yang menguatkan saya adalah doa. Kemudian timbul semangat yang menggelora. Perjalananpun jadi tak terasa.
Jam 2.30 kami sudah hampir sampai di pos terakhir. Artinya puncak bisa kami tempuh kurang dari sejam lagi. Kami memutuskan untuk beristirahat di tempat yang landai. Kang Dede menyarankan untuk istirahat di tempat ini, karena tahu kondisi di atas sana ramai. Kemungkinan besar kita tidak kebagian tempat. Belum lagi angin yang kencang bisa membuat kami kedinginan. Karena kami tektok, dan mengira akan sampai puncak jam 5 pagi, jadi perlap tidur tidak dibawa. tak ada sleeping bag. Tak ada tenda. Daun pepohonan sebagai atap, dan tanah sebagai alasnya. Kami pun tidur seadanya. Kebetulan saya ngantuk sekali. Jadi bisa tertidur pulas. Hanya beberapa menit, wajah saya tersentuh air yang jatuh. Entah embun, entah gerimis. Dingin dan tersentuh air, itu seperti sebuah sensani di iklan-iklan permen. Saya merasakan sebuah getaran. Saya kira itu hp saya. Ternyata bukan. Atau mungkin gempa. Ternyata juga bukan. Saya lihat sebelah kanan di tempat saya berbaring, terlihat rekan kami yang menggigil. Brrbrrrbrrr.... Akhirnya saya pun tertular ikut menggigil.  Beberapa teman mencoba membuat api unggun kecil.  Itu cukup membantu menghangatkan tangan ini yg mulai mengkerut. Bahagia sekali saat melihat parafin yang menyala. Minuman hangat pun nimbrung di atasnya. Kami menikmati hidangan sederhana, sangat membantu mengembalikan energi kita. Melihat waktu menunjukan pukul 4 kurang, akhirnya kami berberes dan melanjutkan perjalanan. Emang bener-bener dah kang Dede, dari tempat istirahat sampai ke puncak tidak pakai break. hehehe...Begitu bersemangat sekali beliau. Padahal kalau saya perhatikan, 5-8 rokok yang sudah ia habiskan selama perjalanan dari basecamp ke puncak. Tapi tak terlihat kelelahan di wajahnya. Mungkin ia sudah terbiasa. Apapun alasannya, semangat yang ia punya memotivasi saya untuk melangkah.  Rasa lelah saat itu seperti sirna, melihat matahari yang mulai menyapa. Kami tersulut semangat kang Dede, dan akhirnya "Alhamdulillah, akhirnya sampai Puncak"

alhamdulillah sampe puncak

pagi yang cerah

matahari mulai tampak

semakin meninggi matahari, semakin indah

jangan lewatkam moment-moment di atas

kibarkan bendera Indonesia di tempat tertinggi

kerucutnya bayangan Mt Cikuray

2821 mdpl, stop vandalisme

mari makan :)

bayangan siapa ya

pose arah berlawanan matahari

tracking yang melelahkan

perkebunan di kaki cikuray

nikmati perjalanan anda