Minggu, 26 Juni 2011

Nuansa Hati

Perasaan kian lama, kian sulit dimengerti. Setiap harinya ada beribu-ribu perasaan yang terlukis dan terekam oleh hati. Perpaduannya kadang harmoni, kadang pula ada pertentangan yang bergejolak.
Tak ada yang salah dengan itu, kecuali dari proses penyalurannya yang kurang baik.
Setiap manusia mempunyai kecenderungan mengeluh dan ekspresif, terkadang tidak pada tempatnya.
Hal inilah yang membuat murka Illahi karena tak melihat tanda rasa bersyukur dari seorang hamba-Nya.
Setiap kejadian mempunya makna, baik rasa senang, sedih, gundah gulana, gelisah, bahagia, merdeka dan sebagainya, pasti ada cerita dibalik itu semua.
Pernah kita lihat, sang miskin dengan kehidupan menyedihkan, ia banyak mengeluh dan menyalahkan Tuhannya. Dan di seberang sana, ada pula sang miskin yang sabar, dan mensyukuri setiap tetes nikmat yang didapat. Dan banyak pula sang kaya yang mempunyai cerita tersendiri. Itu hanya segelintir cerita tentang harta.

Kehidupan yang modern, banyak manfaat dan banyak pula celaka.
Kita sering melihat (pemuda/pemudi) galau, yang sangat ekspresif.
Dari masalah keluarga, asmara, ekonomi, akademik, kamar mandi sampai hewan peliharan menjadi konsumsi publik setiap harinya. Fitrah manusia sesuai firman Allah :

“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)"


Mari kita kumpulkan nuansa-nuansa hati menjadi sebuah cerita yang bermanfaat dalam hikmah atas setiap kejadian yang menimpa kita atau sekeliling kita. Dan mulai menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.
Seperti surat Al 'Ashr :
1. Demi masa
2. Sesunguhnya manusia berada dalam kerugian
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yang saling nasehat menasehati dalam kebenaan dan saling menasehati dalam kesabaran.