Selasa, 28 Juni 2011

Totalitas dan Pembuktian

Orang-orang yang mempunyai totalitas dalam bekerja menganggap kesurutan semangat itu sebagai sebuah hinaan bagi dirinya, kelelahan sebagai titik nol atau permulaan dimana ia harus bersemangat lagi. Pengorbanannya adalah sebuah kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Karena ia menikmati setiap keringat yang keluar dari tubuhnya, mencintai setiap tetes darah dan air mata yang ia keluarkan, menghargai setiap waktu dalam pekerjaannya, seolah-olah ia berada dalam surga dunianya.
(catatansangmusafir)

Apa kabar sahabat, semoga sehat, semakin kuat, cermat dan masih hidup dalam sebuah manfaat...
Lembaran hidup kita sudah terbuka puluhan tahun yang lalu...
Sudah diisi dengan pena-pena berwarna, yang menunjukan kualitas disetiap rekam jejak kita..
Dan hari ini, kondisi kita masih sama, dikelilingi sekelompok amanah..
Baik amanah diri sendiri dalam menjalani hidup...
amanah keluarga, juga masyarakat...
Kita memang ditakdirkan untuk memegang amanah ini, yaitu menjadi seorang pemimpin...

Yang membedakan sederet hal itu adalah definisi dan aplikasi...
banyak orang yang mendefinisikan seenaknya, sesuai kemampuannya dan sesukanya, sehingga aplikasi amanah yang ia pegang tidak maksimal, bahkan boleh jadi ia menjadi pasukan-pasukan penghancur yang merobohkan bentengnya sendiri...
Puas dengan kerja yang sedikit, kemudian berbangga-bangga denga dirinya dengan melebarkan wajahnya selebar langit... kemudian berkata Saya adalah ..... hahahaha

Sahabatku yang kucinta ...
Totalitas kadang menyakitkan,,,
Totalitas sejalan dengan pengrobanan...
Karena totalitas adalah membersihkan fikiran dari dasar hidup yang kotor, menyapu debu-debu kepuasan kerja yang tidak maksimal. Hal itulah yang berat..
Jangankan berhenti dan bersitirahat sejenak, untuk mengambil nafas sekejap ia merasa kecewa dan penyesalan yang luar biasa. Karena adanya sebuah keteguhan dalam hatinya yang memiliih setiap ajalan hidupnya dengan komitmen yang harus digigit kuat-kuat...

Untuk itu kita perlu bekerja keras disetiap kesempatan yang ada, menerima sepenuh hati apa yang kita jalani, dan selalu berharap kebaikan pada setiap apapun yang terjadi. Tidak bekerja dengan sepotong, setengah-setengah apalagi meneruskan...Karena mental totalitas kita akan diuji dengan masalah-masalah yang harus kita hadapi.

Sebuah totalitas yang kita lakukan jangan pernah terlihat hampa karena disebabkan akibat yang kita dapatkan dari suatu pengorbanan. Untuk itulah diperlukan pembuktian. Akal kita sudah terlalu lama mati suri untuk memikirkan sesuatu yang cemerlang. Totalitas bisa saja mengganggu aktivitas, tapi tidak menyurutkan profesionalitas. Pasti bisa, sudah banyak tokoh-tokoh yang membuktikannya, dengan totalitas hidup yang dimiliki, kemudian mereka membuktikanya dalam bingkai akuaarium besar yang saya sebut "kesuksesan". Itu cukup membungkam mulut orang-orang pembual.. Mau apalagi, ayo totalitas dan buktikan....

(catatansangmusafir)